Popular Article: Situs one-stop-solution-in-one-place dalam Industri Pernikahan
Saat ini industri pernikahan sangatlah besar, bahkan menurut riset Splendid Insight, rata-rata orang Indonesia berani mengeluarkan kocek yang cukup besar untuk sebuah pernikahan, kurang lebih bisa sampai 7 juta USD atau sekitar 90 miliar. Dan tak sedikit juga yang menggunakan media online untuk melakukan riset untuk merencanakan pernikahan. Hal ini merupakan sebuah peluang bisnis yang besar sehingga seorang entrepreneur muda bernama Kevin Mintagara (30) menciptakan dan meluncurkan versi beta marketplace pernikahan yang bernama BrideStory[1].
BrideStory adalah sebuah platform yang menyediakan list vendor untuk acara pernikahan. Melalui BrideStory, calon pengantin bisa mendapatkan semua informasi dan pilihan yang dibutuhkan untuk menggelar pesta pernikahan. Mulai dari mengumpulkan para penyedia jasa pernikahan untuk mempromosikan jasa mereka masing-masing seperti wedding organizer, tempat pembuatan, souvenir pernikahan, jasa fotografer, dekorasi, hingga toko kue pengantin. Bukan hanya itu, Bridestory hadir menjadi situs terbesar di Indonesia dengan jumlah lebih dari 100.000 inspirasi pernikahan, baik dalam bentuk foto maupun video.
Bisnis yang dibangun pada bulan April 2014 ini sudah mampu menarik investor untuk berinvestasi di industri pernikahan ini. Salah satunya adalah Sovereign’s Capital[2]. Menurut artikel yang dilansir dalam laman CrunchBase[3] investor-investor yang berinvestasi pada Platform informasi vendor pernikahan Bridestory ini adalah Lippo Digital Ventures, Skystar Capital, Fenox Venture Capital, East Ventures, dan Rocket Internet. Dana yang diperoleh nantinya adalah untuk meningkatkan pengembangan produk dan menambah jumlah pegawainya. BrideStory sendiri berencana untuk mengekspansi kehadiran bisnisnya di 2-3 negara baru di kawasan Asia Tenggara hingga akhir tahun. Baru-baru ini juga ada satu investor lagi yang menanamkan modalnya di Bridestory, yaitu Rocket Internet. Rocket Internet sendiri telah membawahi situs-situs ternama seperti Lazada, Lamudi dan Foodpanda. Seperti yang dilansir dalam infokomputer.com[4], Rocket Internet percaya bahwa Kevin dan Emile (kedua pendiri dari BrideStory) memiliki talenta yang jarang ditemukan di Asia Tenggara. Mengapa demikian? Karena mereka mempunyai visi dan anggota tim untuk membangun bisnis online yang sangat besar untuk menyasar pasar pernikahan yang nilainya mencapai US$18 miliar di Asia Tenggara. Jika dilihat-lihat kembali, hal ini merupakan hal yang menarik, baru dan fresh bagi industri pernikahan.
Seperti yang dilansir dalam artikel dailysocial.net[5], Kevin menyebutkan dalam menjelaskan bisnis Bridestory, “Bagi pasangan (yang hendak menikah), kami menawarkan layanan non-stop untuk merisetkan ide kreatif dan memperoleh rekomendasi yang dipersonalisasi di berbagai aspek yang berhubungan dengan hari pernikahan yang unik. Untuk vendor, kami menawarkan platform yang efisien untuk meningkatkan brand awareness dan menjangkau konsumen baru di skala global.” Dan juga tersedia berbagai macam vendor yang berkualitas dan yang telah berpengalaman di industri pernikahan yang dapat memuaskan dan dapat memenuhi pernikahan impian anda.
Dengan adanya BrideStory ini, bukan hanya memberikan keuntungan dan kemudahan di sisi customer saja, BrideStory juga memberikan keuntungan dan kemudahan di sisi vendor. Pasalnya dengan adanya BrideStory para pelaku di industri pernikahan dapat mempromosikan produk atau jasa mereka, selain itu bagi vendor dapat memperluas segmen pasarnya, meningkatkan omset, dan lain-lain. Seperti yang dikutip di swa.co.id[6],salah satu vendor yaitu Rina Thang mengaku, dirinya cukup puas bekerja sama dengan Bridestory. “Sejauh ini respons market sangat antusias dan menjadi alternatif baru dalam memilih sepatu wedding,” ujarnya. Seperti yang dikutip dalam situs Peluang Usaha[7], kedepannya kelak, Kevin ingin situs buatannyanya bebas dari iklan. Untuk mendapatkan pemasukan, ia menggunakan sistem bernama pay per leads. Ia menjelaskan, tiap anggota vendor awalnya mendapatkan yang dia sebut, contact credit, sebanyak 20 buah. Contact credit akan berkurang setiap ada konsumen yang mengunjungi laman produk mereka. Dia mengasumsikan vendor akan bersedia membayar karena terbukti Bridestory bisa membantu pemasaran. “Kalo bayar, jadi adil dong,” ujarnya.
Selain menarik vendor ternama, demi mempromosikan Bridestory, Kevin juga beriklan di berbagai portal berita dan memaksimalkan teknik search engine optimization. Tak ketinggalan, promosi di media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram juga digencarkan. Pasalnya, Kevin (CEO BrideStory) berencana untuk membesarkan Bridestory bukan hanya di Indonesia saja. Di akhir tahun 2014 lalu, Kevin menyasar Filipina dan Australia. “Saya ingin menggarap pasar internasional karena banyak sekali orang luar yang ingin menikah, misalnya di Bali. Tetapi, mereka selama ini kesulitan karena tidak kenal vendor dari Bali atau Indonesia,” Kevin mengungkapkan targetnya. Dengan rencana yang matang dan pengalaman panjang di industri digital Indonesia, nampaknya ambisi Kevin meluaskan bisnis teranyarnya akan berjalan lancar. Hal ini telah dibuktikannya melalui hasil di tahun 2015 ini, sudah ada customer dari luar negeri yang menggunakan jasanya untuk dapat menikah di Bali.
Sevia Marshelina
1601233111
Information System & Management
Binus University
Literatur:
http://sovereignscapital.com/[2]
https://www.crunchbase.com/organization/bridestory[3]
https://dailysocial.net/post/bridestory-peroleh-seed-funding-dari-sovereigns-capital [5]
http://swa.co.id/youngsterinc/bridestory-mewujudkan-impian-calon-pengantin[6]
http://peluangusaha.kontan.co.id/news/potensi-cuan-dari-situs-pernikahan[7]
